A. Pengertian Kesebangunan
Perhatikan gambar dua buah persegi
panjang di bawah ini. keduanya merupakan bangun datar yang sebangun karena
memiliki kesamaan sifat yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
Perbandingan sisi terpanjang PQ dengan
sisi terpendek QR = 39 : 13 = 1 : 3
Perbandingan sisi terpanjang KL dengan
sisi terpendek LM = 24 : 8 = 1 : 3
Perbandingan sisi terpanjang RS dengan
sisi terpendek QP = 39 : 13 = 1 : 3
Perbandingan sisi terpanjang MN dengan
sisi terpendek NK = 24 : 8 = 1 : 3
Dari perhitungan di atas dapat dilihat bahwa sisi
terpanjang dan terpendek pada kedua persegi panjang diatas memiliki perbandingan yang sama yaitu 1 : 3.
2. Besar sudut pada kedua persegi
panjang tersebut memiliki nilai yang sama besar.
Sudut P = Sudut K; Sudut Q = Sudut L;
Sudut R = Sudut M; Sudut S = Sudut N
Oleh karena semua sudut persegipanjang
besarnya 90° (siku-siku) maka sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua
persegipanjang itu besarnya sama. Dalam hal ini, persegipanjang PQRS dan persegipanjang KLMN memiliki sisi-sisi bersesuaian yang
sebanding dan sudut-sudut bersesuaian yang sama besar. Selanjutnya, kedua
persegipanjang tersebut dikatakan sebangun. Jadi, persegipanjang PQRS sebangun dengan persegipanjang KLMN.
Pengertian kesebangunan seperti ini
berlaku umum untuk setiap bangun datar. Dua bangun datar dikatakan sebangun
jika memenuhi dua syarat berikut.
1. Panjang sisi-sisi yang bersesuaian dari kedua
bangun itu memiliki perbandingan senilai.
2. Sudut-sudut yang bersesuaian dari kedua
bangun itu sama besar.
B. Pengertian Kekongruenan
Pernahkah kamu melihat seorang tukang
bangunan yang sedang memasang ubin? Sebelum ubin-ubin itu dipasang, biasanya
tukang tersebut memasang benang-benang sebagai tanda agar pemasangan ubin
tersebut terlihat rapi, seperti tampak pada gambar di bawah ini. Cara
pemasangan ubin tersebut dapat diterangkan secara geometri seperti berikut.
Gambar di atas adalah gambar permukaan
lantai yang akan dipasang ubin persegipanjang. Pada permukaannya diberi
garis-garis sejajar. Jika ubin ABCD digeser searah AB (tanpa dibalik),
diperoleh A => B, B => E, D => C, dan C => F sehingga ubin ABCD
akan menempati ubin BEFC. Akibatnya,
AB => BE sehingga AB = BE
BC => EF sehingga BC = EF
DC => CF sehingga DC = CF
AD => BC sehingga AD = BC
∠DAB => ∠CBE
sehingga ∠DAB = ∠CBE
∠ABC => ∠BEF
sehingga ∠ABC = ∠BEF
∠BCD => ∠EFC
sehingga ∠BCD = ∠EFC
∠ADC => ∠BCF
sehingga ∠ADC = ∠BCF
Berdasarkan uraian tersebut, diperoleh
1. sisi-sisi
yang bersesuaian dari persegipanjang ABCD dan persegipanjang BEFC sama panjang,
dan
2. sudut-sudut yang bersesuaian dari persegi
panjang ABCD dan persegipanjang BEFC sama besar.
Hal tersebut menunjukkan bahwa
persegipanjang ABCD dan persegipanjang BEFC memiliki bentuk dan ukuran yang
sama. Dua persegi panjang yang demikian dikatakan kongruen.
Berdasarkan uraian tersebut diperoleh
gambaran bahwa dua bangun yang kongruen pasti sebangun, tetapi dua bangun yang
sebangun belum tentu kongruen. Bangun-bangun yang memiliki bentuk dan ukuran
yang sama dikatakan bangun-bangun yang kongruen. Pengertian kekongruenan
tersebut berlaku juga untuk setiap bangun datar.
Assalamu'alaykum... Uni, tetep semangat mengedit desain blog nya... makasiih materinya bagus....
BalasHapuswaalaikumsalam, ok tq.
HapusDitunggu postingan selanjutnya :)
BalasHapustapi bagussan lagi kalo materinya ditambah contohnya juga, uni
kunjungi blog ku: adhara23-mardes-nurhayati.blogspot.com
ok, sebenarnya kalau untuk contoh, penjelasan materi di atas sudah langsung contohnya des, tapi hanya satu aja, kalau mau pengayaan lihat aj di postingan lks Kesebangunan dan Kekongruenan Bangun Datar :)
Hapussiiipp ,, materi okkk :D
BalasHapusbagus materinya ren,,, kasih contoh soalny biar lebih lengkp... :)
BalasHapusbagus :D
BalasHapusmateriY bgus ren n ckup jls,,,n mudah dphami
BalasHapus